ACEH GUGAT (Emha Ainun Nadjib)

Raksasa itu menggeliat, dari kedalaman bumi. Apakah ia Dajjal yang segera akan muncul ke permukaan bumi? Atau justru Dabbah, lawannya, karena Dajjal justru sudah merajalela menghancurkan manusia di muka bumi?

Dajjal mengancurkan negeri demi negeri, dihanguskan dengan serbuan dan peperangan. Dengus napas dan bau busuk mulutnya menjadi wangi di hisapan hidung manusia. Dajjal menyihir dunia, membakar hati ummat manusia, menjungkir-balikkan akal sehat mereka. Dajjal, era demi era, menjebak manusia ke dalam kurungan ilmu yang bodoh. Menggiring manusia menuju kemajuan yang menghancurkan. Kemudian memenjarakan mereka di sel-sel paranoya dan sisoprinia…

Tapi persetan. Siapa ini yang menggeliat nun dari dalam sana, meretakkan susunan bebatuan, mengubah struktur tanah, dengan irama yang tak kira-kira? Lidah siapa itu yang tiba-tiba saja menjulur dan menjilat pantai dan kota-kota manusia?

Rumah-rumah, bangunan dan segala benda ambruk. Ribuan jasad manusia dilemparkan, dibanting, dihimpit, diperhinakan dengan mencampurkannya ke reruntuhan batu bata dan besi. Patahan kayu-kayu bercampur tulang belulang, daging tercabik membusuk bercampur sampah, darah sirna dalam kotoran air dan lumpur.

Teriakan-teriakan takut dan kengerian bertabrakan dengan angin badai dan terpental ke langit. Bagai kiamat kecil. Bukan-ini kiamat besar! Siapa gerangan yang tega hati menyelenggarakan kehancuran ini? Makhluk apa gerangan yang tak punya nurani menghajar manusia dengan sambaran raksasa kengerian ini?

Kenapa tak ditabrakan saja bumi ini dengan rembulan dan matahari. Juga seluruh benda-benda langit—persetan apapun nama benda-benda itu serta bagaimana semula susunannya. Kami semua siap mengalami satu kali ledakan dari benturan itu, kemudian langsung mati. Langsung mati tanpa terasa. Daripada harus meraung-raung berkepanjangan, daripada teriris-iris hati ini, tercabik-cabik perasaan ini, terguncang-guncang jiwa ini mendekati wilayah kegilaan. Siapakah yang akan menyalahkan kami jika sekarang kami menjadi gila? Siapakah yang bisa membawakan kami beberapa keranjang ilmu untuk kami pakai menanggung penderitaan yang bahkan sangat tak cukup untuk disebut sekedar dengan kata penderitaan—ini?

Ribuan ruh-ruh terpental dari jasadnya. Mereka terjerembab, terbanting, terlempar, terseret, nafas mereka terengah-engah, tersengal-sengal…

Bahkan tatkala jasad sudah hancur lebur, ruh masih bisa tersengal-sengal. Bahkan hati ini masih ada – apakah yang bisa diberati oleh duka maha duka ini, jika bukan hati, di dalam ruh kami? Bahkan jiwa kami terang benderang memeluk gambar nyata nasib kami. Bahkan akal kami tak ikut mati—sebab sangat jelas dan sangat berat terpanggul di pundak kami rasa tidak mengerti atas semua ini. Rasa tidak mengerti yang paling tidak mengerti dibanding segala tidak mengerti.

Satu ruh memekik sangat keras. Satu ruh meraung sangat panjang. Satu ruh menggeram sangat dalam. Satu ruh menghardik, berteriak-teriak. Ketika hardikan dan teriakan itu memuncak, tiba pada suara tanpa kata. Kata hanya masa silam yang bodoh. Yang bisa lolos ke alam ini hanya bunyi dan ledakan-ledakan aneh.

Pekikan itu, raungan itu, geraman itu, hardikan dan teriakan itu, bunyi dan ledakan-ledakan itu—akhirnya muncul tak hanya dari satu dan satu ruh. Tetapi dari puluhan lainnya. Dari ratusan lainnya. Ribuan lainnya. Sedemikian keras dan bergemuruh—lebih dari dahsyatnya gempa dan hempasan air yang melemparkan mereka ke daerah itu.

“Ini bukan Dajjal!” terdengar suara satu ruh.

“Bukaaaan!” sahut ratusan ruh lain.

“Ini juga bukan Dabbah!”

“Bukaaaan!” ribuan ruh lain menyahut bersamaan.

“Ini Tuhan!”

“Tuhan!”

“Yaaaa! Tuhaaaan!” suara seluruh ruh itu membahana.

“Tuhan yang melakukan semua ini!”

“Tuhan yang bikin perkara!”

“Tuhan yang bikin bencana!”

“Tuhan yang menciptakan kehancuran!”

Beribu-ribu ruh meraung bersama-sama. Di dalam raungan itu terkandung segala macam jenis derita dan kegelapan yang pernah dikenal oleh peradaban manusia, namun kadarnya tak tertakar, tak terukur, tak terkirakan.

Tiba-tiba ribuan ruh itu dikepung oleh bola raksasa berwarna putih kebiru-biruan. Bagai tabung kaca raksasa. Aceh telah sirna. Indonesia dan dunia lenyap dari pandangan mereka. Semua terkesiap. Terdiam. Sunyi senyap. Bahkan gaung suara bencana dahsyat yang berusan menimpa mereka tak sedikitpun tersisa.

Ruh-ruh itu memandang ke sekeliling bulatan maha besar itu. Apakah kalian adalah para Malaikat? Yang jumlah kalian tak terhingga—bagai hamparan salju yang memenuhi segala arah? Inikah alam barzah? Inikah alam malakut? Ataukah riyah, walayah, atau sudah tiba kami semua di semesta uluhiyah?

“Jangan terjebak!” tiba-tiba terdengar suara satu ruh.

“Ya! Jangan tertipu!” terdengar satu ruh yang lain.

“Jangan terkesima!” kemudian bersusul-susulan suara.

“Bencana tetap bencana!”

“Kekejaman tetap kekejaman!”

“Ketidakadilan tetap ketidakadilan!”

Bergemuruh kembali suara ribuan ruh-ruh. Menyerbu ke segala arah di dalam rongga bulatan besar itu, dinding-dindingnya yang putih kebiru-biruan. Sampai akhirnya dinding itu, di suatu bagian, pelan-pelan meretak. Retakannya makin melebar dan melebar. Akhirnya terkuak. Dan nun di seberang sana, di luar bulatan maha raksasa itu, para ruh melihat: warna hitam yang sangat kelam, serta guratan-guratan merah yang bentuknya sangat aneh dan mengerikan.

Ribuan ruh-ruh itu terdiam. Satu sama lain saling berpandangan.

Dari lubang retakan itu tiba-tiba muncul tujuh sosok terbang memasuki bulatan maha raksasa menuju ke arah mereka. Ribuan ruh-ruh itu tidak mengerti apakah harus takut, bingung, atau mencoba mencari sikap yang lain. Ruh-ruh itu berpegangan satu sama lain, memandangi tujuh sosok itu.

“Bencana tetap bencana”, kata satu sosok, dengan suara yang jenis dan warnanya belum pernah mereka dengar sebelumnya.

“Kekejaman tetap kekejaman”, suara sosok yang lain.

“Ketidakadilan tetap ketidakadilan”, disusul lainnya lagi.

“Bencana oleh siapa, kekejaman siapa, ketidakadilan siapa, yang kalian maksudkan?”, kata satu sosok lainnya lagi yang tampaknya adalah pemuka di antara ke tujuh sosok itu.

Ribuan ruh itu sangat kaget ketika tiba-tiba saja muncul dari mulut mereka suara yang sama dan serempak: “Tuhan!”

“Tuhan yang bikin bencana, Tuhan yang melakukan kekejaman dan ketidakadilan?”

Ruh-ruh itu sungguh tidak mengerti kenapa serempak lagi mereka menjawab : “Yaaaa!”

“Apakah bencana, kekejaman dan ketidakadilan itu sesuatu yang diciptakan ataukah sesuatu yang menciptakan? Apakah mereka makhluk ataukah Khalik?”

“Makhluk”, jawab ruh-ruh itu lagi bersamaan.

“Kalau bencana, kekejaman dan ketidakadilan itu makhluk, siapakah Khaliknya?”

“Tuhan”

“Jadi Tuhan yang menciptakan bencana, kekejaman dan ketidakadilan?”

“Ya”

“Sekali lagi aku bertanya: Jadi, Tuhan yang menciptakan bencana, kekejaman dan ketidakadilan?”

“Ya”

“Sebagaimana Ia menciptakan rejeki, kesantuan dan kearifan?”

“Ya”

“Sebagaimana Ia menciptakan sorga tapi juga neraka?”

“Ya”

“Sebagaimana Ia menciptakan kalian, semua manusia, semua hewan, semua alam semesta, langit dan bumi, gunung dan sungai, tanah dan hutan, serta segala apapun tanpa ada sesuatu selain yang Ia ciptakan?”

Ya”

“Apakah Tuhan menciptakan alam semesta, langit dan bumi, serta kalian semua ini, dengan membeli atau meminjam bahan bakunya dari pihak lain—sebagaimana kalian membuat nasi dengan membeli beras di pasar?”

“Tidak”

“Apakah ada yang berperan atau memberikan sumbangan sesuatu kepada Tuhan untuk menciptakan segala makhluk itu?”

“Tidak”

“Jadi di dalam perusahaan pembikinan makhluk itu berapakah saham Tuhan?”

“Seratus persen”

“Kalau begitu adakah pihak lain yang berhak mengambil keputusan apapun dalam penciptaan makhluk itu selain pemilik saham seratus persen?”

“Tidak ada”

“Apakah ada landasan kenyataan atau nilai yang membuat Tuhan terikat oleh suatu aturan selain kemauan-Nya sendiri?”

“Tidak ada”

“Apakah ada satu saja nilai, entah moral atau hukum, baik atau buruk, kejam atau penuh kasih sayang, adil atau tidak adil, atau apapun saja, yang mempunyai landasan untuk mengikat Tuhan?”

“Tidak ada”

“Apakah Tuhan terikat oleh kewajiban? Kewajiban dalam arti apapun, kecuali yang Ia terapkan untuk mengikat diri-Nya sendiri?”

“Tidak”

“Apakah Tuhan terikat oleh anggapan-anggapan makhluk-Nya?”

“Tidak”

“Apakah kalau itu semua bencana bagi kalian maka pasti bencana juga bagi Tuhan?”

Kali ini tak ada jawaban dari ribuan ruh-ruh yang menggigil ketakutan itu.

“Apakah kalau kalian katakan itu semua adalah kekejaman dan ketidakadilan, maka demikian juga pada pandangan Tuhan?”

Tiba-tiba, beberapa di antara ruh-ruh itu menjawab dengan suara yang sangat keras dan membahana: “Bencana tetap bencana!”

Diteruskan oleh kelompok-kelompok ruh yang lain: “Kekejaman tetap kekejaman! Ketidakadilan tetap ketidakadilan!”

Setelah teriakan beberapa kelompok ruh-ruh ini reda, sosok itu berkata lagi: “Kalian telah mengambil keputusan untuk secara resmi menerapkan Syariat Islam di negeri kalian. Tuhan senang menyaksikan keteguhan kalian itu. Sehingga sebagian kalian dibebaskan dari kebingungan kalian yang berkepanjangan tentang Aceh Merdeka dan NKRI, tentang dilemma berdarah di antara GAM dan TNI, di depan mata dunia internasional yang acuh tak acuh kepada kalian. Sebagian kalian dimerdekakan dari bau busuk dunia, dari manipulasi atas nasib kalian oleh pencoleng-pencoleng pencari uang dan kekuasaan. Sebagian kalian diberi anugerah oleh Tuhan untuk tidak perlu lagi berpusing-pusing pikiran tentang penguasa dunia yang semakin bergelimang megalomania, politik yang semakin menjijikkan, kebudayaan yang membuih dan menghewan, serta pasar perekonomian yang semakin serakah dan tidak tahu diri. Sebagian kalian dijemput oleh gempa dan ombak raksasa, disongsong oleh para Malaikat, diantarkan langsung menuju sorga yang berderajat sangat tinggi. Kalian semua telah diangkat oleh Tuhan menjadi syuhada, kalian mati syahid, mati dalam keadaan menyaksikan kebobrokan dunia. Kalian menyaksikannya tidak hanya dengan mata dan ilmu, melainkan dengan nyawa dan penderitaan. Itulah semulia-mulia makhluk Tuhan. Ia telah menunggu kalian dengan cinta-Nya, dan sudah menghapus seluruh dosa kalian selama hidup di dunia”.

“Tapi kenapa dengan cara yang kejam dan mengerikan?”, kelompok ruh-ruh itu bertanya.

“Kalian berpikir dari sudut jasad dan dunia. Gempa itu hanya tanah bergerak. Tanah itu tak ada nilainya, kalian semua pasti akan meninggalkannya. Air bah itu hanya air yang bergerak. Air pun adalah jasad yang pasti akan kalian tinggalkan. Bahkan batang tubuh kalian adalah kerendahan serendah-rendahnya, yang pasti tak akan bisa kalian pertahankan di rentang waktu keabadian. Semua yang porak poranda itu adalah wajah dunia yang selama ini menipu kalian, yang menawan kalian dalam kebingungan. Meskipun tak ada gempa dan air bah, kalian dan dunia pasti akan mengalami perpisahan. Perpisahan yang sungguh-sungguh dan mendasar.”

“Tetapi kesengsaran dan kesulitan hidup yang tak terbayangkan kini menimpa saudara-saudara yang kami tinggalkan”

“Kami ditugasi oleh Tuhan untuk menaburkan kesadaran dan kekuatan hidup pada semua saudara-saudara yang kalian tinggalkan. Kesadaran bahwa anugerah pengalaman dahsyat ini akan mengangkat kembali kebesaran manusia Aceh. Akan membangkitkan kembali kepribadian mereka yang pernah sangat dikagumi oleh sejarah. Anugerah ini akan membuat rakyat Aceh akan lahir kembali menjadi pendekar-pendekar tangguh yang tidak gentar melawan apapun isi dunia.”

“Yang menimpa rakyat Aceh ini lebih besar dari urusan TNI dan GAM, Aceh Merdeka dan NKRI. Bukankah urusan itu yang selama ini membuat hidup kalian jadi gamang, serba ragu, dilemmatis, bingung, tak tahu pasti sebaiknya akan melangkah ke mana, membuat semua pihak-pihak di dunia bertengkar dan mempertengkarkan kalian, dan tak ada formula apapun yang dibayangkan akan bisa menyelesaikannya secara tuntas? Kini seluruh nusantara dan dunia menangis untuk kalian. Tangis mereka menyatu dengan derita kalian. Situasi tangis bersama itu membukakan pintu selebar-lebarnya bagi kalian hamba-hamba Aceh untuk layak mengambil keputusan apapun, yang tak lagi membuat kalian atau siapapun merasa rugi, merasa malu atau merasa kalah.”

Yogya, 29 Desember 2004


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s