Para Patriot (1) (Emha Ainun Nadjib (cak nun))

Buku: “Gelandangan Di Kampung Sendiri” 

Para Patriot (1)

Sahabat kita yang lain adalah seorang pemuda gagah namun pekerja keras. Ia mahasiswa (Agronomi di satu universitas swasta Malang, Jawa Timur), namun tak malu bekerja kasar.

Ia putra keenam dari sembilan bersaudara, mengerti kedua orang-tuanya rnemanggul beban terlampau berat, sehingga ia memutuskan untuk ikut mengurangi beban itu. Setidak-tidaknya mungkin ia malu: Wong mahasiswa itu agent of social change, elite intelektual dan calon pemimpin bangsa kok numpang makan dan minta biaya sekolah kepada orang tua yang pendidikannya rendah dan melarat. Mosok ujung tombak era industrialisasi dan globalisasi kok nyusu pada orang agraris-tradisional.

Banyak macam usaha ia tempuh. Makelaran, dagang kecil-kecilan, namun masih belum sumbut untuk keperluan sehari-hari dan biaya kuliah yang merupakan idaman orang tua. Pernah juga ngenger ke sejumlah orang kaya, tapi belum saling ada kecocokan.

Apa yang ia idamkan adalah seandainya ada yang bersedia meminjami modal, dengan perjanjian dan prosedur yang dirundingkan secara fair. “Syukur kalau tanaman anggrek kaya jenis Douglas & Katlya bisa segera laku,” tambahnya.

Pemaparan ini tidak hanya mengimbau Kepada Anda-Anda yang bersedia merogoh saku. Ini berlaku juga siapa saja yang tahu manfaat tambah teman dan ilmu pergaulan.

Lain lagi Ibunda atau Mbakyu kita berikut ini. Ia bentrok terus dengan suaminya masalah Keyakinan agama dan kini dalam proses meresmikan perpisahan.

Hmmm… yang namanya perpisahan atau perceraian, memang unik. Itu sebuah kemungKinan sunnatullah.

Mungkin karena darurat, mungkin karena memang harus demikian diaektikanya. Bahkan perpisahan bisa merupakan saiah satu bentuk persatuan. Burung ‘Dali’ di udara terus, burung Gemek/Gemak di daratan dan semak-semak pohon terus: Itu perpisahan fisik, sekaligus persatuan hakiki dalam menjalankan ekosistem kehidupan.

“Lek idek mambu taek, lek adoh mambu kembang.” Mbakyu kita ini melihat dan yakin, sebagai mantan suami mantan istri. mereka masing-masing justru bisa berbuat lebih baik di tempatnya sendiri-sendiri yang baru.

Ia sendiri mencoba menemukan diri yang terbaiknya. Output dari segala kompleksitas problem dan kegagalan rumah tangganya, tidak berupa sikap nekad atau kompensasi-kompensasi negatif. Yang menjadi tekadnya kini ialah memusatkan sisa hidupnya untuk “menyeru manusia kepada Tuhan”, semacam muballighat, sambil bekerja untuk mencari sandang pangan ala kadarnya sebagaimana orang-orang lumrah lainnya.

Dari Semarang, eks domisilinya, ia telah melakukan perjalanan ke Yogyakarta, Ponorogo (Jawa Timur) dan lain-lain untuk angon nasib, mempelajari agarna secara mendalam dan mencari kemungkinan-kemungkinan.

Ia kiri tinggal di Jember (Jawa Timur); di rumah seorang ibu yang juga aktivis acara-acara keagamaan. Namun ia tidak bersedia menjadi `benalu’.

Apa yang ia perlukan adalah kesediaan suatu institusi keagamaan, lembaga pendidikan, padepokan santri atau apa saja, di mana ia bisa belajar serius narnun juga bersedia bekerja sekasar apa pun, agar ia ‘sah’ menjadi manusia hidup.

Seorang pendeta di Tarus, Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang saya pernah bersenda gurau dengannya semalam-malaman, menginginkan anggotanya dalam organisasi pengembangan masyarakat ke Pulau Flores yang ditimpa bencana, untuk melihat apa-apa yang mereka bantu.

Memang ada beribu hal yang diperlukan oleh penduduk pulau malang itu dan setiap orang, setiap kelompok atau institusi, menjajaki tingkat kesanggupannya untuk menolong. Salah seorang anggota yang dikirim itu, sesudah melihat lapangan, mengajukan proposal kepada Pak Pendeta: Butuh biaya kurang lebih satu juta rupiah untuk perbaikan dua mushalla yang legrek (rusak berat) oleh gempa.

Ibarat kalau ada orang kejet-kejet ditabrak truk, segera saja Anda lari menolongnya, tak usah dulu tanya kepada korban apa agamanya, apa madzabnya, apa alirannya dan apa proposalnya. Dan Pak Pendeta ini dengan senang hati bersurat melanjutkan keperluan perbaikan tempat ibadat itu. “Tapi terus terang saya agak takut-takut inisiatif saya ini tidak didukung oleh kalangan Kristen, serta dicurigai oleh kalangan Islam,” katanya.

Saya katakan kepada beliau: “Itu memang sangat pantas dicurigai. Bahkan kalau karni bersembahyang di masjid, saya terkadang juga curiga apakah orang di sebelah saya sungguh-sungguh salat kepada Allah jiwa raganya, hatinya, perasaannya, cintanya, hidup matinya. Jadi keputusan dan sikap saya adalah: teruslah, salat! Allahlah satu-satunya Hakim Maha, lembut-Tajam-Adil.”

Maka imbauannya dan panggilan amal ini pun saya tulis.

Adik dari Poto’an Daya, Palenggaan, Pamekasan, Madura, karena situasi ekonomi keluarganya yang semakin seret, sangat khawatir akan tidak bertahan sekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah, apalagi untuk meneruskan kuliah kelak.

Baginya, “gantungkan cita-citamu setinggi langit” bukanlah kata-kata mutiar a, melainkan momok yang membuat hati getir. Untuk rutin membayar SPP dan membeli alat-alat serta buku-buku sekolah saja semakin hari semakin tak bisa dijamin.

Salah satu kelemahan adik kita ini adalah dalam kondisi seperti ini, ia hanya berinisiatif untuk ‘meminta’.

Bukankah seandainya ada di antara pembaca yang bersedia menjadi semacam Bapak asuh, menjadi kurang ‘optimistis’ karena sikap mental semacam ini?

Apa yang harus ia tunjukkan ialah tekad untuk bekerja sambil sekolah, daya juang yang tak kemauan untuk membuktikan peningkatan diri, kemudian selalu bersyukur.

Hal yang sama juga terjadi pada rekannya sepulau: santri di Jaddung, Pragaan, Sumenep, Madura. Ia mengetuk pintu agar ada yang bersedia memberinya biaya yang memenuhi keperluan sekolah. “Ini terpaksa,” katanya, “demi menambah pengetahuan untuk hari depan.”

Tidak ada yang salah dengan ini semua. Tetapi afdhal (lebih baik) seandainya sebelum la meminta sesuatu, la menawarkan juga sesuatu kepada orang yang dimintalnya tolong. Tapi apa? Barang kerajinan barangkali?

Sesuatu yang khas Madura? Sesuatu yang la ciptakan sendiri yang khas? Atau sekurang-kurangnya tekad dan segala sesuatu yang membuat orang lain bersimpati.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s