Demokrasi dalam Islam (Emha Ainun Nadjib (cak nun))

Semua bisa salah. Doktor bisa salah, cendekiawan bisa salah, politik pun bisa salah, mahasiswa juga sering salah. Apalagi pemerintah, sangat banyak membuat salah. Maka jika semua yang saya sampaikan ini salah karena saya manusia, namun jika benar hanya dari Allah Swt.

Hampir setiap hari kita mendengar analisa, ungkapan, kesimpulan, persepsi-persepsi dari ilmuwan, cendekiawan tentang Islam. Dari pembicaraan-pembicaraan itu selalu terkesan bahwa Islam itu tidak mengenal demokrasi. Tidak hanya umat Islamnya, tetapi seolah-olah Islamnya juga tidak mengenal demokrasi. Mereka dianggap sangat terbelakang, ganas, sutka mengamuk, dan tidak demokratis, egois dii. Saya sebagai umat Islam itu merasa begitu kampungan karena tak mengenal demokrasi. Padahal demokrasi di dalam Islam sesungguhnya hanya sepetak nilai dari nilai Al Qur’an yang sudah diturunkan. Di dalam Al Qur’an, jangankan demokrasi dalam konteks negara demokrasi dalam konteks alam seluruhnya juga terkandung. Demokrasi ala Yunani itu kan hanya bagaimana penduduk atau rakyat bermusyawarah menentukan X dan Y di dalarn proses bemegara. Ini sangat terbatas. Tetapi, demokrasi di dalam Islam bukan hanya demokrasi yang dikenal manusia, tetapi jin, setan, dan makhluk goib lainnya kenal dan diberi hanya masing-masing, sesuai dengan porsinya.

Bagaimana sesungguhnya hubungan demokrasi dengan Islam dalam level konsepsionaI atau filosofi? Kalau berbicara masalah itu perlu dipisahkan dengan pembicaraan tentang demokrasi dan umat Islam itu sendiri dipandang dari sudut sosiologis historis. Artinya, jangan sampai kita menjadi orang Islam yang capai-capai belajar ke mana-mana namun masih tetap inferior. Seolah-olah kita adalah orang yang sangat ketinggalan zaman dan agama kita temyata adalah agama primitif. Sehingga kita merasa segan kalau harus belajar demokrasi karena kita tidak pernah merasa memiliki. Maka seluruh makalah dan desertasi kita mencerminkan inferioritas primitif yang semacam itu. Nah, saya harapkan hal ini tidak akan terjadi lagi.

Misalnya seperti yang diungkapkan oleh Gus Dur (panggilan. akrab Abdurrahman Wahid) tentang definisi Demokrasi. Sayang, Gus Dur terlalu mudah menuduh orang lain sektarian, primordial, dan tidak demokratis. Misalkan kita memakai jilbab yang mengandung Arab itu, bisa jadi itu primordial. Seperti Gus Dur menganggap semua hal yang berbau Arab adalah primordial dan sektarian. Hanya sesuatu yang berasal dari negara Barat itulah barangkali yang dianggap Gus Dur universal.

Cara berfikir seperti itu akan membuat otak kita tidak bisa adil menatap paham-paham atau kriteria-kriteria yang jernih tentang apa yang sesungguhnya disebut sebagai sektarianisme atau primordialisme itu. Sebab jilbab yang disebut sebagai sektarian itu memiliki keabsahannya sensementara rok mini juga memiliki keabsahannya sendiri dilihat dari sistem nilainya. Kalau memang kita berpikir secara demokratis. Jika cara kita berfikir seperti itu baru sah disebut primordial.

 

Apa yang dimaksud primordial bisa dikatakan merupakan penyeragaman, itu kalau memakai cara berpikir ala Gus Dur. Cuma cara berpikir seperti itu sistemnya persis seperti dipesan dari Eropa atau Amerika. Padahal pakai rok mini ala Eropa Amerika itu primordial sekali. Mudah-mudahan apa yang saya utarakan ini dapat membuat kita berpikir lebih jernih. Hal ini sangat terkait dengan posisi dan kondisi umat Islam terhadap tuntutan demokrasi. Kalau umat Islam tidak boleh menampilkan diri sesuai dengan citranya dan harus taat serta takut pada simbol-simbol budaya milik orang lain, secara psikologis membuat kita tidak memiliki kepercayaan diri. Gus Dur itu setiap hari pakai baju batik. Bukankah batik itu sangat primordial sekali? Ee, nggak kroso (enggak mau tahu diri). Mendingan saya pakai baju putih dan celana hitam, sebab ini universal semua orang merasa memiliki. Saya bicara begin bukan berarti ngedumel, ngrasani, ngomong di belakang terhadap Gus Dur, itu memang pada tempatnya. Tidak apa-apa. Sebab saya satu-satunya orang Indonesia yang berani mengejek Gus Dur. ini alasan historis.

Barangkali dari peristiwa tersebut, kita telah menemukan sate soal tentang psikologisme melalui penyebaran cara berpikir yang tidak adil. Dan itu sayangnya sangat mempengaruhi cara berpikir kita. Saya pribadi secara ernpirik sangat mengalami kerugian karena peristiwa semacam itu. Misalnya, saya disuruh masyarakat untuk membuat teater. Ideologis saya adalah teater rakvat. Artinya, teater yang dasarnya udnguilasabili robbikaa bil hikmah wal maui idhotil khasanah. Wajadilhum billati hiya akhsan (berangkatlah kamu dalam keadaan berat atau ringan di jalan Tuhan-Mu untuk berjihad dan berjuang di jalan Allah. Demikian itu lebih balk jika kamu mengerti).

Kalau kita berkomunikasi dengan menggunakan bahasa komunikan, yaitu bahasa orang yang kita ajak ngomong. Kalau kita membuat teater, maka idiom-idiom teater yang saya pakai hams idiom-idiom yang tepat pada audiensnya. Kalau saya berhadapan dengan umat Islam, maka saya bikin drama Islam, misalnya Lautan Jilbab, tetapi apa yang terjadi setelah pementasan beberapa kali, saya dianggap primordial. Jadi, mereka hanya melihat kulitnya. Sebenarnya idiom-idiom budaya yang saya pakai hanya sekedar kendaraan menuju substansinya. Substansinya dari salah satu drama-drama saya adalah pendidikan politik. Dan sepengetahuan saya belum pemah ada drama kritik sosial yang se-eksplisit dan sekeras Lautan Jilbab, yang terakhir dipentaskan di Surabaya dan mendapat pujian Pangdam Jawa Timur, namun dicekal di Java Tengah. Drama kami menyesuaikan dengan audiensnya. Nah, dengan demikian, Gus Dur jangan terlalu mudah menuduh primordial pada Lautan Jilbab. Kalau Gus Dur menuduh begitu, maka yang maha primordial adalah pemikiran-pemikiran, persepsipersepsi, dan teori Gus Dur sendiri.

Lantas apa kandungan dalam Islam jika dikaitkan dengan demokrasi. Menurut saya, kita ini semacam Tarzan. Tarzan itu hidup di hutan tak mengenal teknologi maupun kemajuan jaman. Artinya, begitu kita bicara demokrasi, seolah-olah Islam itu tidak memiliki kandungan demokrasi. Kita kenal nasi itu berasal dari Indonesia. Tapi, beras itu ada di mana-mana. Dan demokrasi itu sekedar berposisi seperti nasi. Tapi jangan lupa dengan berasnya, benihnya, dan sawahnya ada di mana-mana. Apalagi di dalam Islam. Jadi sekali lagi saya tidak percaya bahwa seolah-olah Islam itu sesuatu yang tersendiri dan demokrasi itu sesuatu yang lain. Bagi saya, demokrasi itu nasi. Artinya, Islam itu mengandung beras dan nasi. Bahwa kemudian beras dan nasi itu diolah secara psikologis dalam dekade tertentu di Eropa, Amerika, dan lain-lairmya, itu benar. Namun, tidak lantas kalau Islam mengenal demokrasi berarti adopsi. Sama sekali tidak mengadopsi lihat saja Surat al-Haj ayat 4, Al-Hasyr ayat 18-24, yang mengandung tatanan Asmaul Husna, dan demokrasi.

Tidak ada keadaan yang menyedihkan dibanding keadaan umat Islam dewasa ini, meskipun sekarang ini kita seolah-olah mengalami kondisi yang dikatakan kebangkitan. Kondisi yang namanya Islam itu ditutupi orang Islam itu sendiri.

Saat ini kita berada pada titik kulminasi.

Yogya, Rablutsani 1412 H

(Emha Ainun Nadjib/ “Nasionalisme Muhammad” – Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s