Jejak Tinju Pak Kiai (Emha Ainun Nadjib (cak nun))

Emha Ainun Nadjib (cak nun)

 

ANDAIPUN di seluruh Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan, keserakahan, maksiat atau segala macam nilai kacau lainnya, tidak serta-merta bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.

Baik buruk, jahat tak jahat, bukan satu-satunya faktor penentu nasib manusia. Dimensi dasar nilai hidup manusia adalah baik dan buruk, benar dan salah, indah dan tidak indah, sebenarnya belum cukup. Masih ada dimensi mendasar lainnya, belum lagi variabel-variabel dan detailnya. Ada ratusan terminologi.

Ada orang mengucapkan sesuatu dan melakukannya. Ada orang mengucapkan, tapi tak melakukan. Ada yang melakukan, tapi tak mengucapkan. Ada yang tak mengucapkan dan tak melakukan, dengan berbagai variabelnya.

Ada orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Ada orang tahu banyak tentang sedikit hal. Ada orang tahu sedikit tentang banyak hal. Ada yang tahu banyak tentang banyak hal – dengan berbagai variabelnya.

Ada orang mengkritik dan memberi jalan keluar. Ada orang mengkritik, tapi tak bisa memberi jalan keluar. Ada orang memberi jalan keluar tanpa mengkritik. Ada orang tidak mengkritik dan tidak memberi jalan keluar, dengan berbagai variabelnya.

Ada orang berjuang, berteriak-teriak, dan melaksanakan perjuangannya. Ada orang berjuang, tidak berteriak tapi mewujudkan perjuangannya. Ada orang berjuang dan tidak sibuk mengumumkan di koran bahwa ia berjuang, karena teriakan mengganggu strategi perjuangannya. Ada orang berteriakteriak tapi tidak berjuang. Ada orang yang tidak berteriak-teriak dan tidak berjuang, dengan segala variabelnya.

Ada orang yang mengerti dan mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang mengerti tapi tidak mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang yang tidak mengerti tapi mengerti bahwa dia tidak mengerti. Ada orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa dia tidak mengerti, dengan segala variabelnya.

Ada orang berdagang dan memusatkan diri pada pelayanan terhadap pelanggannya. Ada orang berdagang sibuk pada apa mau dia terhadap pelanggan sehingga lupa apa maunya pelanggan. Ada pedagang yang tidak peduli-peduli amat pada kemauan pelanggan dan tidak konsentrasi pada apa mau dia sendiri dalam berdagang, dengan segala variabelnya.

Ada orang perang dengan berbekal semangat dan keyakinan untuk menang, dengan menghitung cuaca, medan, dan musuh. Ada orang perang sangat teliti menyelidiki kekuatan cuaca, medan, dan musuh sehingga tidak sempat menghitung kekuatan dan kelemahan sendiri. Ada orang perang sibuk membanggakan kehebatannya sehingga merasa tidak perlu memperhitungkan lawan. Ada orang perang yang atas musuh tak berhitung dan atas dirinya sendiri juga tak berhitung, dengan segala variabelnya.

 

Ada orang yang sangat khusyuk dengan prinsip dan idealismenya dan sangat sungguh-sungguh memikirkan strategi terapan prinsipnya. Ada orang yang total pegang prinsip sampai tak punya energi dan waktu untuk memikirkan bagaimana menerapkannya. Ada orang yang habis usianya untuk tata kelola dan tata terapan sampai tidak ada prinsip yang tersisa di dalam dirinya. Ada orang yang tak peduli pada prinsip dan tak sungguh-sungguh melaksanakan apa pun, dengan segala variabelnya.

Ada seorang kiai nonton tinju bersama santri-santrinya pada suatu Minggu pagi bulan Maret tahun 1974. George Foreman melawan Muhammad Ali di Kinshaha.

Pak kiai bersemangat dan bersorak-sorai terus-menerus sampai terdengar ke seluruh asrama santri di pesantrennya. Sebaliknya, para santri hampir tidak ada suaranya dan tampak bingung air muka mereka. Setiap kali Muhammad Ali ditonjok, Pak Kiai bersorak. Para santri tidak berani meng-counter meskipun hati mereka ikut sakit melebihi sakitnya Muhammad Ali ditonjokin Foreman. Ali 32 tahun menantang juara dunia Foreman 24 tahun.

Mulai ronde 3 Ali sudah lari ke pojok ring terus dan memang tak diberi peluang oleh Foreman untuk sedetik saja tak terpojok. Ali minta tolong sama tali ring untuk bergelayutan dengan punggungnya menghindari pukulan-pukulan Foreman. Para santri rasanya tidak ridho dunia akhirat melihat dan mendengar Pak Kiai bersorak-sorak terus setiap kali Ali diberondong pukulan. Sampai akhirnya tiba menit kedua ronde kedelapan, Ali balas memukul, akumulasi jab, straight, dan hook. Foreman munting, terputar badannya dan tergeletak TKO.

Badannya belum habis benar, tapi mental dan hatinya KO lebih dulu karena tak menyangka Ali yang tua mampu menjatuhkannya. Para santri tak bisa menahan diri lagi. Begitu Foreman ngglimpang, mereka berteriak-teriak sangat keras. Sebaliknya Pak Kiai langsung pingsan, karena dua perkara. Pertama karena Foreman tumbang, kedua karena pekik kegembiraan para santri.

Sejumlah santri panik dan menjunjung tubuh Pak Kiai, mencoba menyadarkannya. Salah seorang santri nyeletuk, “Kenapa sih Pak Kiai mbelain Foreman?” Santri lain menjawab, “Lho, tidak. Pak Kiai sangat fanatik dan cinta sama Ali. Cuma dia sangka yang Foreman itulah Ali.”

Kisah ini diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang, DPR, pemerintah, LSM, ulama dan siapa saja: mohon dengan sangat jangan ikuti jejak Pak Kiai itu.

 

Emha Ainun Nadjib (cak nun)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s